UMKM Adalah: Pengertian, Kriteria dan Faktor Perkembangannya

October 11, 2021
Info UMKM
6 menit

UMKM adalah salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Simak penjelasan tentang pengertian, kriteria dan faktor perkembangan UMKM berikut ini!


Kita pasti pernah mendengar istilah UMKM, namun apa itu UMKM sebenarnya?. UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kelompok usaha ini merupakan kelompok dengan jumlah terbesar di Indonesia. Kemampuan UMKM bertahan terhadap krisis dan menjawab tantangan perekonomian di Indonesia membuatnya menjadi sektor yang sangat diandalkan oleh negara kita.

Untuk lebih memahami tentang usaha mikro kecil menengah dan bagaimana perannya dalam perekonomian Indonesia, mari kita simak ulasan lengkap berikut ini!

Pengertian UMKM

Pelayan menyiapkan truk makanan untuk layanan di taman
Foto oleh Kampus Production

Dengan melihat kepanjangan dari UMKM, sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang arti UMKM. Pemerintah sendiri sudah memiliki aturan terkait UMKM yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Undang-undang tersebut disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 4 Juli tahun 2008 silam di Jakarta.

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa definisi UMKM adalah sebuah kegiatan usaha yang dijalankan oleh masyarakat dengan tujuan memperluas lapangan pekerjaan serta memberi pelayanan ekonomi kepada masyarakat secara luas. Kegiatan usaha yang termasuk ke dalam UMKM ini diharapkan bisa membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta mampu mewujudkan stabilitas nasional.

Tak hanya itu, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dianggap sebagai salah satu fondasi yang penting dalam mendukung kokohnya perekonomian Indonesia. Karena itu, semua pelaku usahanya harus memperoleh dukungan yang maksimal serta memperoleh kesempatan untuk berkembang semaksimal mungkin tanpa harus mengesampingkan peran BUMN sebagai badan usaha yang dimiliki dan dikelola langsung oleh negara.

Kriteria UMKM

Pria penjual menyiapkan truk makanan untuk bekerja
Foto oleh Kampus Production

Pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 telah dijelaskan apa saja yang termasuk ke dalam kriteria usaha mikro, kecil dan menengah, tetapi pada tahun 2021 aturan ini kembali diperbarui lewat PP No. 7 Tahun 2021. Untuk melihat perbandingan antara aturan lama dengan aturan baru Anda bisa menyimak uraian berikut ini!

Dari Segi Klasifikasi Usaha

Pada aturan terbaru, UMKM diklasifikasikan berdasarkan modal usaha atau hasil penjualan selama satu tahun. Adapun yang dimaksud modal usaha termasuk modal milik sendiri dan modal dari pinjaman yang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan operasional usaha.

Dalam aturan sebelumnya, UMKM diklasifikasikan berdasarkan nilai kekayaan bersih atau nilai penjualan tahunan. Kekayaan bersih merupakan jumlah seluruh aset setelah dikurangi dengan kewajiban dan utang.

Dari Segi Modal Usaha/Kekayaan Bersih

Menurut aturan terbaru, usaha mikro memiliki modal usaha paling banyak Rp1 miliar. Adapun usaha kecil memiliki modal lebih dari Rp1 miliar dan maksimal Rp 5 miliar. Untuk kategori usaha menengah, modal yang dimiliki lebih dari Rp5 miliar dengan modal maksimal Rp10 miliar. 

Sementara itu, pada aturan lama, usaha mikro adalah usaha dengan modal paling besar Rp50 juta dan usaha kecil memiliki modal lebih dari Rp50 juta tapi tidak lebih dari Rp500 juta. Kriteria usaha menengah dalam aturan lama usaha menengah memiliki kekayaan bersih atau nilai modal usaha lebih dari Rp500 juta dengan nilai modal maksimal Rp10 miliar.

Nilai modal ini tidak termasuk bangunan dan tanah tempat usaha dijalankan.

Dari Total Hasil Penjualan Tahunan

Berdasarkan aturan baru, usaha mikro adalah usaha yang memiliki nilai total penjualan tahunan maksimal Rp2 miliar. Adapun usaha kecil menghasilkan penjualan tahunan lebih dari Rp2 miliar tetapi lebih kecil dari Rp15 miliar. Kemudian, yang termasuk kategori usaha menengah adalah usaha yang hasil penjualan tahunannya berkisar antara Rp15-Rp50 miliar.

Nilai ini lebih besar dibandingkan dalam aturan lama yang menetapkan usaha mikro sebagai usaha dengan hasil penjualan tahunan maksimal Rp300 juta dan usaha kecil memiliki hasil penjualan tahunan antara Rp300 juta sampai Rp2,5 miliar. Dalam peraturan lama, usaha menengah memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari R2,5 miliar dengan hasil penjualan tahunan terbesar Rp50 miliar.

Faktor-faktor Perkembangan UMKM di Indonesia

Dua wanita yang bahagia bekerja menggunakan gawai di toko bunga
Foto oleh Amina Filkins

Meski termasuk salah satu sektor yang penting, faktanya perkembangan UMKM di Indonesia masih terhambat oleh sejumlah permasalahan. Lantas, hal-hal krusial apa saja yang berpengaruh terhadap perkembangan UMKM di Indonesia?

Jangkauan terhadap Teknologi, Informasi dan Komunikasi

Salah satu faktor penting yang dapat mendukung berkembangnya UMKM di tanah air adalah teknologi dan pemanfaatannya. Para pelaku UMKM perlu diberi edukasi berbasis teknologi untuk lebih mengembangkan usahanya. Mendirikan toko online, melayani pembelian secara online hingga membuat website sendiri adalah beberapa langkah yang bisa membuat jangkauan pemasaran menjadi lebih luas.

Pemerintah bahkan secara khusus menjadikan UMKM sebagai target digitalisasi. Upaya pemerintah mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini terbukti dengan data yang diperoleh Kemenkop UKM bahwa per tahun 2017 silam sudah ada 8 juta UMKM yang go-digital dan jumlah ini terus bertambah sampai hari ini.

Kemudahan terhadap Akses Modal

Modal adalah faktor yang sangat penting bagi sebuah bisnis, tidak terkecuali untuk sektor UMKM. Kemudahan akses perbankan adalah salah satu pendorong tumbuhnya sektor ini. Pemerintah melalui sistem perbankan nasional mulai mewajibkan alokasi dana kredit khusus UMKM sebesar 5% mulai tahun 2015 lalu. Nilai ini terus mengalami kenaikan sampai 20% per 2018.

Tak hanya itu, kebutuhan modal usaha mikro yang tergolong kecil tentu akan memudahkan siapa saja untuk memasuki sektor ini. Dengan begitu, kita bisa mengharapkan pertumbuhan yang lebih besar lagi di sektor UMKM dalam beberapa tahun ke depan.

Penurunan Tarif PPh Final

Dukungan pemerintah terhadap sektor UMKM juga ditunjukkan dengan penurunan tarif PPh final. Pada awalnya pemerintah menetapkan kewajiban pajak sebesar 1%. Namun, per bulan Juli 2018, aturan baru menetapkan turunnya tarif PPh final untuk pelaku UMKM menjadi setengahnya yakni hanya 0,5% saja.

Sistem Pembukuan yang Lebih Modern

Hal lain yang tak kalah penting dalam mendorong pertumbuhan UMKM adalah tersedianya sistem pengelolaan karyawan termasuk absensi dan gaji karyawan yang lebih praktis dan modern. Alih-alih menggunakan cara manual yang merepotkan, kini pelaku UMKM bisa menikmati Bukugaji . Sebagai aplikasi pengelola karyawan nomor 1 di Indonesia, pengusaha UMKM dapat melakukan pengelolaan absensi hingga penghitungan gaji profesional yang lebih praktis.

Tunggu apalagi, lakukan efisiensi dan tingkatkan produktivitas usaha Anda bersama Bukugaji . Coba gratis di sini.

Related Posts